Header Ads

Artikel | Dibalik Kata "Jenuh"

Dibalik Kata "Jenuh"

Oleh: Arunaille

“ Mungkin Kalo lo liat postingan ini, lo baru aja bangun tidur,

 masih di kasur mager-mageran dan hanya sekadar ngecek hp lo tanpa adanya alasan.

 Jadi gini, apa sih sebenarnya alasan tujuan hidup lo? cuman lo yang tau kan,

Yap selesaikanlah apa yang baru lo mulai

jangan lupa tanggungjawab kejar mimpi lo dan pastinya jangan lupa bahagia

 

Pernah gak sih kalian ngerasa, ketika bangun pagi hari kalian sadar bahwa akan melakukan kegiatan yang sama dengan kemarin? Lalu, lama kelamaan sadar, bahwa hal itu akan berulang-ulang terus ? Mungkin hampir semua orang akan berada dalam tahap ini. Tahap “jenuh” dimana kita merasa sudah cukup dalam melakukan sesuatu. Jadi, apa solusinya?

Ya tentunya, temukanlah sesuatu yang baru, perlahan akan menghilangkan tingkat kejenuhan itu. Bisa dari kegiatan, barang, tempat atau apapun yang sebenarnya sudah lama ingin kita coba atau lakukan. Kata “jenuh” di atas memang memiliki konotasi negatif. Tapi tentu dalam melihat suatu hal, kita juga harus berlaku adil dalam menilai. Bahwa “jenuh” adalah sebuah “proses”, bukan sebuah hasil. Tidak ada proses yang lurus-lurus saja. Maka bersyukurlah jika kita memiliki rasa jenuh, yang artinya kita sedang dihadapkan dengan sebuah “proses” untuk menjadi lebih baik. Tanpa adanya rasa “jenuh”, maka kita akan selamanya melakukan kegiatan yang sama, dan tidak akan ada sesuatu yang baru dihidup kita. Jadi, jenuh tidak selamanya negatif bukan? silakan tentukan, apakah kamu akan mengabaikan rasa jenuhmu? ataukah kamu akan menjadi sesuatu yang lebih baik?

 

Selamat pagi, salam dari indahnya matahari.

 

 

Tidak ada komentar