Header Ads

Cerpen | Bait Rasa Bagian 1

 Bait Rasa

Oleh: Arunaille

“Gila kamu Bil!”

“Ayolah Nad, sekali ini saja.”

“Tidak Bil, belum genap sebulan ayah dan ibuku meninggal. Tega kamu seperti ini Bil.” Dengan terisak dan terbata Nadya menolak ajakan Billy kekasihnya untuk melakukan itu. Sementara Billy terdiam menatap Nadya yang termenung dan tak mampu membendung airmatanya. Perlahan ia luruh meleleh seperti es yang terkena terik matahari. Jatuh perlahan tanpa suara. Lirih hatinya menangis.

Dengan terbata dan salah tingkah Billy masih tetap berusaha meyakinkan kekasihnya itu. “Aku hanya ingin menemanimu Nad. Aku tahu kamu kesepian sepeninggal ayah dan ibumu.” Tangan Billy berusaha meraih tangan Nadya yang berusaha menutupi matanya yang tidak bisa menahan untuk tidak menteskan airmata.

Dalam benaknya ini adalah waktu yang tepat untuk memintanya pada Nadya. Namun tak disangka Nadya menolaknya. Baginya yang hidup dalam kebebasan, sex bukanlah perkara tabu. Toh mereka sudah dewasa. Pun sudah 4 tahun berpacaran. Tapi bagi Nadya ini adalah sebuah pukulan kedua setelah Ayah dan Ibunya tewas bersamaan dalam suatu kecelakaan malam itu. Ia tak menyangka kedatangan kekasihnya yang seharusnya menghibur dan menguatkan hatinya malah semakin merobek luka yang dideritanya.

Billy terus berusaha meraih tangan Nadya, tapi Nadya semakin keras tidak ingin. Dalam hatinya ia ingin kekasihnya itu segera pergi dari kamar kostnya. Ia ingin sendiri. Ingin menangis sejadi jadinya. namun keinginannya tidak menemui takdirnya. Billy tetap berada didepannya berusaha mendekapnya. Nadya terus-terusan menghindar dan berontak.

“Maafkan aku Nad.” Billy berusaha menenangkan Nadya. Tapi tidak berhasil. Nadya beranjak dan lari keluar dengan tangan masih menutup sebagian wajahnya. Tak sempat Billy mencegah dan mengejarnya. Nadya keburu menghilang di perempatan gang. Larinya begitu cepat seakan menghindari sesuatu yang menakutkan baginya.

Billy kembali ke kamar kost Nadya. Sepi memang karna para penghuni kost sudah pulang ke kotanya masing-masing sejak libur dua hari yang lalu. Billy datang ke Yogyakarta untuk menjemput Nadya dan sekaligus mengantarnya pulang. Tak dinyana hal ini yang terjadi.

Billy terduduk di sebuah kursi yang menghadap jendela dengan meja didepannya. Matanya melirik kiri dan kanan. Diraihnya sebuah foto dengan bingkai yang terbuat dari lidi yang tersusun rapi dengan pulasan glitter dan beberapa bunga kain berwarna warni disetiap sudut bingkai. Foto Close Up Nadya dengan rambutnya yang sebahu dibiarkan terurai. Matanya yang sipit tidak lagi terlihat sipit dengan kacamata hitam yang jarang sekali dipakai Nadya.

Billy mengambil foto itu dan berbaring dikasur. Ia menatap lamat-lamat foto itu melirik arloji seiko pemberian sahabatnya Jean. Jarum jam menunjuk angka 11. Kembali ia menatap foto Nadya. Dan lalu tertidur pulas dengan foto Nadya dalam dekapannya.

***

Nadya berlari dengan isak tangis yang semakin tertahan. Tak sedikitpun ia menoleh kebelakang. Berharap Billy tidak mengejarnya. Gang demi gang ia lewati berbelok memasuki gang-gang yang lebih sempit agar tidak terkejar. Orang-orang yang ia lewati tidak sedikitpun mengusiknya. Mungkin dalam benak mereka kenapa ada gadis berlarian seperti dikejar penjahat sambil terisak. Tapi merekapun hanya sesaat saja hirau lalu acuh dan kembali pada kegiatan masing-masing.

Sesampainya di ujung gang keluar ke jalan raya barulah Nadya menoleh kebelakang. Tak ada Billy mengejar. Ia pun menengok kanan-kiri jalan. Tak tahu harus bagaimana. Dengan nafas terengah-engah dan isak tangis yang masih menyesakan dadanya ia berjalan lunglai. Tak ada tujuan yang pasti. Sampai suara klakson motor mengagetkannya. Ia menoleh kearah suara. Rupanya Wahono teman sekelasnya.

“Arep nang ndi Nad?”

“No, boleh aku ikut kamu sebentar?”

“Ya, mau kemana to, kenapa kamu nangis Nad?”

“Nanti kuceritakan No, bawa aku pergi dari sini segera.”

“Ya wes naek kalo begitu.” Tanpa berpikir panjang lagi Nadya langsung naik ke motor bebek butut yang suara knalpotnya kalah berisik dengan suara baut-baut yang ingin terlepas.

Wahono membawa Nadya kerumahnya karna ia harus segera mengantarkan belanjaan Ibunya. Dalam perjalanan mereka berdua tidak bersuara sedikitpun. Wahono mengerti, ada yang tidak beres yang terjadi dengan temannya itu. Tapi bukan saat yang tepat bertanya.

Sesampainya dirumah ia mempersilahkan Nadya duduk di kursi reyot yang busa-busanya sudah menyembul disana sini.

“Sebentar Nad, Aku arep antar belanjaan ibuku.”

“Iya No, makasih ya.” Nadya berusaha menutupi matanya yang sembab dan airmatanya yang telah mengering. Wahono beranjak masuk kedalam dan kembali beberapa menit kemudian dengan segelas teh hangat. Dipersilahkannya Nadya untuk minum dan menenangkan diri. Ia tak lantas segera menanyakan apa yang terjadi. Tapi menunggu Nadya tenang dan akan menunggu Nadya bicara sendiri tanpa ditanya.

“Terimakasih No.” Nadya menerima gelas yang diasongkan Wahono lantas perlahan meminumnya. Wahono duduk di kursi sebelahnya disamping meja kecil yang sudah kusam. Pliturannya sudah luntur kena tempias hujan dan terik matahari.

“Kamu gak sibuk No?”

“Nda kok Nad, Kenapa memangnya?”

“Boleh aku disini sebentar?”

“Lha kaya ke siapa aja Nad, Aku iki koncomu kan.”

“Terimakasih No.”

“Wes wes daritadi makasi terus. Sudah makan Nad?”

Nadya menggeleng lemas. Ia tahu Wahono adalah teman sekelasnya yang paBilg baik dan bijak. Meski berbeda keyakinan tapi wahono tak pernah mempermasalahkan. Baginya berteman dengan siapapun selama itu baik tidak masalah.

“Waduh iki wes siang Nad. Sudah mau dzuhur kamu urung mangan.” Wahono beranjak dari kursi butut itu lantas masuk kedalam dan kembali dengan sepiring nasi dengan dua tempe dan semangkuk sayur Asem.

“Cuma ada ini Nad.” Sambil mempersilahkan Nadya makan wahono kembali duduk di kursinya. Piring dan mangkuk tersaji di meja lusuh itu. Nadya menatapnya. Malu rasanya baginya malah minta makan tapi dia benar-benar lapar. Kejadian tadi sedikit banyaknya menguras energinya.

“Terimakasih lagi No. Aku makan ya.” Tanpa pikir panjang lagi Nadya langsung menyantap Nasi dan Sayur Asam itu.

“Yo wes kamu makan, aku mau ke mesjid dulu ya. Sudah mau adzan.”

Nadya nyengir dan mengangkat jempol kirinya sedang tangan kannya fokus pada sendok. Mulutnya masih berisi nasi.

“Bu, itu ada temanku didepan tolong temenin. Aku ke mesjid dulu bu.” Ibu Tutik adalah ibunya Wahono. Ia berprofesi sebagai tukang jahit. Ia masih sibuk dengan jahitan ditangannya dan kakinya Bilcah menginjak-injak pedal mesin jahit tua kesayangannya. Yang telah membersamainya menggantikan Suaminya mencari nafkah untuk kedua Anaknya.

“Bu, bo ya didenger toh kalo anaknya ngomong.”

“eh, iya le iya.” Ibu Tutik langsung menghentikan pekerjaannya dan mengekor anak sulungnya yang sudah rapi dengan Baju Koko dan sarungnya.

“Nad, ini ibuku.” Nadya langsung berhenti menyantap piringnya dan berusaha bertingkah sesopan mungkin di depan Ibunya Wahono.

 

“Wes dilanjut saja makannya nak.” Ibu Tutik sangat ramah. Umurnya sekitar 40 tahunan. Terlihat gurat perjuangan diwajahnya. Ayahnya wahono meninggal sejak Wahono kelas 3 SMP dan Ibunya lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Baginya anak-anaknya harus sekolah tinggi meski ia harus berjuang mati-matian sendirian.

“Yo wes ta tinggal sembahyang dulu ya Nad.” Wahono berlalu meninggalkan mereka berdua. Ibunya duduk di kursi yang diduduki wahono. Dari kejauhan wahono menoleh kebelakang melihat Nadya yang sudah selesai makan dan terlihat mengobrol dengan Ibunya.

***

Billy terbangun melihat arlojinya jarum jam hampir menunjuk angka 4. Ia bangkit dan berusaha mencari-cari Nadya. Tapi kekasihnya itu tak kunjung kembali. Ia menunggu dengan cemas. Melirik kembali foto Nadya dan menyimpannya di atas meja. Ia tidak tahu harus mencari Nadya kemana. Baginya kota ini cukup asing. Walaupun pernah beberapa kali ke kota ini untuk berwisata tapi akan sangat sulit jika harus mencari orang di kota yang tak kecil ini.

Suara di perutnya mengalahkan pemikirannya tentang Nadya yang entah pergi kemana. Ia pun keluar untuk makan. Pikirnya mungkin ketika ia kembali Nadya sudah pulang.

***

Wahono tidak sedikitpun bertanya perihal kejadian yang menimpa Nadya. Ia tetap pada pendiriannya biarkan Nadya yang menceritakannya sendiri. Ia memang cukup akrab dengan Nadya tapi rasanya tidak sopan untuk tahu urusan orang lain jika orang itu sendiri tidak menghendakinya. Setelah berbincang-bincang dengan Nadya berusaha membuat Nadya tertawa dan tersenyum. Meskipun itu cukup sulit sebab selain beda agama mereka pun berbeda budaya. Tapi cerita-cerita kejadian konyol di kelas cukup membantu.

Nadya terlihat letih dan matanya masih terlihat sembab. Wahono pun mempersilahkan nadya untuk istirahat dikamar adik perempuannya Tiara. Tiara memang jarang ada dirumah siang hari. Sepulang sekolah ia membantu Buliknya berjualan Warung Nasi di dekat kampus swasta. Ia baru akan pulang setidaknya sampai waktu isya tiba.

Keluarga ini harus berjuang bersama untuk mengentaskan kemiskinan setelah perginya sang Ayah yang menjadi ujung tombak keluarga sederhana ini. Ayahnya adalah seorang kuli bangunan yang mati terjatuh dari lantai 4 sebuah rumah yang tengah di bangun. Uang duka dari empunya rumah yang tak seberapa itu disimpan baik-baik oleh ibunya untuk masa depan anak-anaknya. Wahono seorang yang cerdas meski memiliki segala keterbatasan ia tetap mampu bersaing dengan yang lain.

Setiap tiga hari sekali ia membantu pamannya memanen lele di tambak. Uangnya ia kumpulkan untuk keperluan kuliah. Sedangkan biaya kuliah 100% dari beasiswa.

Hal yang samapun akan terjadi pada Nadya yang kini hidup sebatang kara jika ia tidak berusaha menghemat uang sisa peninggalan Ayah dan Ibunya. Ia harus segera lulus kuliah dan mencari pekerjaan yang layak.

Nadya tertidur pulas di kamar kecil adiknya Wahono. Ruangan itu adalah satu kamar yang dibagi dua dengan Wahono dan dibuatkan pintu lain disebelahnya. Pembatasnya pun hanya dari bilik bambu.

Ranjang besi yang sudah karatan dan kasur yang agak lepek menjadi tempatnya menitipkan lelah dan semua pikiran buruk atas apa yang telah terjadi padanya. Pulas.

Sementara itu diluar rumah Ibu Tutik menarik tangan anak sulungnya dan berbisik-bisik setelah memastikan Nadya tidur dengan lelap.

“Dia siapanya kamu le?”

“Teman saja bu, nda lebih.”

“Tapi ibu lihat di lehernya ada kalung salib.”

“Ya memang dia bukan muslim bu.”

“bener toh cuma teman?”

“Ya iyalah bu, Kalaupun pacar. Memangnya mau gadis cantik koyo dia karo aku?”

Ibunya mewanti-wanti pada anak sulungnya. “Awas le jangan main-main koe. Agama kita melarang”

“Agama ndak melarang kita berbuat baik kan bu. Malah menganjurkan. Ndak mungkin juga aku sama dia. Aku Cuma bantu dia bu. Dia yatim piatu, ayah dan Ibunya belum lama meninggal. Dia ndak punya saudara satupun.”

“Yo wes kalo begitu, ibu Cuma berpesan saja.”

“Siaap bu.” Jawab Wahono dengan senyum lebar. Tapi siapa yang tahu perasaan seseorang?

 

Bersambung…

 

Bait  Rasa

 

Tidak ada komentar