Header Ads

Makhluk Tuhan Yang Paling Egois

Makhluk Tuhan Yang Paling Egois

Oleh: Lisana Sidqia

Seberapapun besar asa, rasa dan usaha yang hidup dan menjalar di dada, sesekali  kenyataan terkadang senang sekali mematahkan harapan. Ketika itu terjadi asa seolah-olah patah meski ia tak bertulang, usaha nampak dihianati sebab semua dilakukan dari hati. Saat itu pula rasanya aku ingin kamu berhenti dan mengerti. Namun yang kutahu kamu adalah makhluk Tuhan yang paling egois.

Bagaimana bisa kamu hanya tahu caranya berjalan, berlalu dan berputar tanpa ingin tahu bagaimana caranya berhenti meski sekedar jeda yang sesaat. Atau mungkin kamu tidak tahu bahwa jeda yang sesaat itu seringkali menjadi keinginan yang teramat sangat bagi mereka yang detik ini sedang berputus asa, mereka yang detik ini sedang kehilangan harapan, mereka yang detik ini sedang kelaparan dan mereka yang detik ini sedang tertimpa kegagalan. Meski aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi jika kamu benar-benar berhenti.

Kukira kamu terlalu sibuk berjalan dan berlalu hingga tak sempat untuk bersinggah. Banyak yang telah terlewati olehmu, entah kamu tahu atau tidak. Semoga bukan karena kamu tidak peduli. Ada banyak saudaraku yang sukses dan merdeka sampai hari ini. Semua itu berkat kamu. Ada banyak saudaraku yang bergembira dan bahagia sampai hari ini. Semua itu berkat kamu. Sebab kamu telah membawa segala usaha dan lelahnya berlalu bersamamu.

Namun kamu masih melewati banyak hal yang tak seharusnya kamu lewati begitu saja. Lihatlah sejenak! Ada banyak saudaraku yang jatuh tanpa sempat mengeluh. Semoga kamu bisa melihat. Ada banyak saudaraku yang patah semangat tanpa tahu kepada siapa dia harus berharap. Dan semoga kamu bisa melihat. Merekalah yang selalu menyusun bait-bait doa kepada Tuhanmu agar kamu segan membawa segala lukanya berlalu bersamamu.

 Harusnya sekali saja kamu bertanya, “siapkah kita lalui bersama?”. Sebab di belakangmu ada banyak hati yang terluka dan sebagian membawa sisa-sisa lukanya. Merekalah hati yang tak sanggup menyapamu, menghadapimu terlebih mengikutimu.

Banyak orang bilang bahwa hidup adalah pilihan. Entah sebab apa pikiranku tak sejalan. Bagiku seluruh hidup ini adalah tentang kamu WAKTU. Semua orang boleh memilih tetap jatuh atau bangun lagi, sukses atau gagal lagi, bermanfaat atau tidak sama sekali. Namun nyatanya apapun pilihan kita, semua berjalan pada waktunya masing-masing. Ada saatnya jatuh dan gagal lagi, sehat dan sakit, bahkan ada saatnya hidup dan mati.

 Terlalu banyak rasa di dunia ini. Terlalu banyak warna dan cerita yang tak pantas kamu lewati. Andai kamu bisa singgah, kamu boleh mengutarakan padaku jika kamu lelah. Berputar tanpa jeda membuatku berpikir selain egois kamu adalah makhluk Tuhan yang tangguh nan gagah. Sering kali aku mencoba untuk mengerti, mungkin bukan keinginanmu tercipta dengan segala ego di benakmu.

Pahamilah. Tidak semua orang dari kami tahu bagaimana memanfaatkanmu dengan baik, sebab itu kamu sering berlalu dengan sia-sia. Tidak semua orang dari kami punya hati dan tekad yang kuat untuk mengikuti setiap detik yang terus bergerak, sebab itu masih sering ada harapan agar kamu berhenti meski untuk sejenak.

Kuharap kebahagiaan menjadi seegois kamu, dia hanya tahu bagaimana caranya hadir tanpa tahu caranya pergi untuk meninggalkan rumah kami. Kuharap senyum dan tawa menjadi seegois kamu, dia hanya tahu bagaimana caranya mekar dan berseri tanpa tahu caranya luntur dan hilang dari wajah kami. Kuharap rasa syukur menjadi seegois kamu, dia hanya tahu bagaimana caranya bertambah tanpa tahu caranya berkurang hingga tiada kata kufur dalam iman kami.

Dan kuharap semua orang mencintai dan menghargaimu, hingga tak ada satupun yang ingin kamu berlalu dengan sia-sia. Doaku untukmu makhluk Tuhan yang paling egois, ‘waktu’.


Tidak ada komentar