Cerpen | Binar Yang Meredup
Binar yang Meredup
Tika Yuliani
Kesibukan orang-orang yang berlalu lalang di
hadapan dengan tiupan lembut semesta di sore hari menusuk kulit, tidak setitik
pun membantuku. Mesin pencari terhebat pun belum tentu bisa menjawab
pertanyaanku dengan akurat, tentang cara bertahan hidup dengan uang gaji
terakhir yang dipotong setengahnya. Baru membayangkan raut wajah Ibu ketika
menjelaskan ini, aku merasa tidak sanggup. Setelah kepergian Ayah, sku sebagai
anak laki-laki menggantikan perannya
sebagai tulang punggung keluarga.
Sejak beberapa bulan terakhir, mencuat kabar
yang menyita perhatian dunia dan tersebar melalui media massa tentang sebuah
penyakit yang disebabkan oleh makhluk, yang bahkan cara hidupnya pun masih
menjadi kontroversi para ahli, virus. Kupikir dia hanya ada di negeri seberang,
tetapi, penyebarannya begitu cepat. Kedamaian tanah airku di tengah kalang
kabut pun mulai terenggut, membuatku sadar bahwa di setiap awal pasti ada
akhir.
N-Virus menjadi topik utama pemberitaan yang
menggegerkan, dan akhirnya ditetapkan sebagai pandemi. Sekolah, tempat wisata
bahkan sampai pabrik pun ditutup. Baru beberapa pekan belakangan ini, tempatku
bekerja kembali dibuka. Akan tetapi, tidak ada yang sempurna karena N-Virus.
Pabrikku dibuka dengan pengurangan karyawan,
termasuk aku yang harus menerima kenyataan pahit.
Berada di sini lebih lama tidak akan merubah
apapun. Realita harus dihadapi. Aku bangkit dari teras pabrik menaiki angkutan
umum menuju rumah. Kendaraan roda dua pun bahkan tidak aku miliki, sejak beberapa
bulan terakhir sebagian besar gajiku dipakai untuk biaya sekolah Novi—adikku—ke
jenjang sekolah menengah atas.
***
Langkah gontai yang kehilangan harap,
pelan-pelan membawaku pada sebuah rumah yang tua ini. Cukup dengan melihat
keadaanya saja, mungkin orang akan bisa memperkirakan berapa usianya. Ketukan
terdengar begitu aku membuat kepalan tangan dan pintu kayu ini beradu, tidak
lupa bibir ini mengucapkan salam. Tidak lama berselang, terdengar suara jawaban
yang membuatku menurunkan tangan.
Detik-detik pengakuan itu semakin dekat.
Pintu di hadapanku terbuka, menampilkan wajah seorang wanita yang sudah
berkerut di beberapa bagiannya.
"Aldi." Ibu menyapa dengan lembut.
Aku menunduk, mencium tangannya dengan hormat atas jasa-jasa beliau yang tidak
akan pernah bisa aku balas seujung kuku pun.
Aku bangkit memandang wajah wanita yang biasa
aku Ibu dengan sebuah senyum tipis yang menyembunyikan bermacam rasa kesal, sedih dan marah juga bingung bercampur aduk pada saat yang sama, seolah
mendobrak ingin diluahkan di setiap kali memiliki kesempatan..
"Ayo masuk, Di. Kalau mau makan, sudah
Ibu siapkan." Setelah mengatakannya, Ibu berlalu masuk meninggalkanku
sendirian untuk sejenak.
Di dalam sana terdapat empat buah kursi tua,
yang mengelilingi meja berbentuk bundar. aku mengikuti jejak Ibu yang kini
duduk di salah satu kursi itu. Langkah in terhenti sejenak. Memandangi beliau
yang hanya duduk diam di sana. Benda-benda ukiran buatan Ayah itu, menjadi
saksi bisu Ibu yang selalu menghabiskan waktu luangnya di sana. Menggulir
kenangan pernikahannya dengan Ayah.
Cinta mereka sangat besar satu sama lain,
karenanyalah Ibu benar-benar terluka ketika Ayah untuk selamanya. Akan tetapi, dia berhasil mengendalikan diri
sehingga tidak berlarut-larut. Sejak itu, hanya Ibu dan Novi yang aku miliki.
Sejak itu pula, seluruh hal yang aku alami diceritakan padanya, apapun itu.
Akan tetapi ... itu dulu. Dulu sebelum
mengerti, bahwa tidak semuanya harus diceritakan. Dulu, sebelum aku mengerti
makna tangis diam-diam Ibu, setelah pada hari yang sama aku menceritakan apa
yang terjadi. Salah satunya, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar
saat bel istirahat berbunyi, teman-teman
berhambur keluar menuju kantin. Sementara aku yang tidak punya uang, hanya bisa
melihat mereka yang menyantap makan dengan nikmat seraya menelan ludah. Polosnya, aku menceritakan itu pada Ibu yang
selama ini bekerja serabutan untuk menghidupi kami. Selama mampu, tidak pernah
tidak untuk dikerjakan meski dengan upah tidak seberapa. Tidak aku sangka,
bahwa ceritaku justru melukainya.
Keadaan telah berubah, memaksaku untuk
bersikap dewasa meski aku rindu untuk selalu berada di pelukannya. Akan tetapi,
terlahir sebagai anak laki-laki membuatku harus mengerti akan pandangan dunia
yang menjadikannya sebagai simbol kekuatan. Tidak banyak bicara atau mengeluh.
Hidup yang dilalui seperti hanya untuk yang dicintai, keluarga. Tidak ada ruang
untuk berbagi kelemahan yang umumnya dimiliki manusia.
Tidak ada yang melarang untuk benar-benar
jujur dengan perasaan sendiri, tetapi dalam keheningan yang terjadi, telah
terikrarkan sebuah janji untuk tetap kuat. Menjalani tugas sebagaimana
pandangan dunia tentang makhluk bernama pria.
"Aldi?"
Suara yang sampai ke telinga membuyarkan
lamunan tentang kerinduan. Menyeretku kembali ke dunia nyata yang menyakitkan.
Sekali lagi, aku tersenyum tipis kemudian mendekat dan duduk di hadapannyaa.
Suasana hening. Aku menunduk menyusun kata
untuk menyampaikan berita ini. Perasaanku mengatakan, bahwa Ibu tengah
memperhatikanku dalam diam.
“Kenapa?” Aku tersentak ketika mendengarnya,
dan sontak mendongak membuat pandangan kami beradu meskipun aku sudah tahu apa
yang sedang Ibu lakukan. Lidah ini mendadak terasa kelu untuk menjelaskan
semuanya. Ayolah, Di!
"Bu, pekerjaanku di pabrik sudah selesai."
Sebisa mungkin memilih kata-kata halus untuk menyampaikan ini, meskipun tidak
berguna karena akan kalah oleh sakitnya kenyataan.
Ibu terdiam masih dengan pandangan yang
saling bertaut. Raut wajahnya tidak berubah, menyulitkanku untuk menebak apa yang
ada di pikirannya sekarang. Bahkan ketika
beliau bicara, aku masih belum bisa menyelami perasaan yang
sesungguhnya. “Tidak apa Di, mungkin sudah saatnya kamu istirahat sebentar.
Bersabarlah, semua pasti ada hikmahnya.”
Nasib orang kecil yang tidak punya
kekuasaaan, hanya bisa tunduk pada aturan orang-orang besar. Bibir ini tertutup
rapat dengan kepala tertunduk. Suasana hening. Aku mengeluarkan uang dari saku,
kemudian memberikannya dengan tangan gemetar. "Ini, gaji terakhir aku,
Bu."
“Makasih, Di." Suara Ibu terdengar
sangat bersyukur, meski uangnya tidak seberapa. Setelah lembaran beralih di
tangannya, beliau kembali menambakan, "Ini ditambah dengan sisa-sisa uang
yang Ibu punya, pasti cukup untuk biaya hidup kita."
Aku tahu, hanya saja tidak ada jaminan sampai
kapan semua ini berakhir. Aku yakin, uang sisa gajiku yang juga dipotong
kemarin, pastilah tidak banyak. Apalagi, dengan kebutuhan yang dengan adanya
pandemi semakin bertambah. Novi belajar di rumah, dan tentunya membutuhkan
kuota internet yang tidak murah. Akan tetapi Ibu, dia masih tegar berlindung di
balik kata 'sisa-sisa uang'.
“Tapi mungkin, untuk makan kita harus sedikit
menghemat. Tidak apa-apa, ya?"
Bagiku, pertanyaan Ibu berjenis retoris dan
tentu saja tidak perlu jawab.
***
Suara gerutuan kecil yang bersumber dari
Novi, mencegat langkah. Terpaksa aku menoleh melihat raut kekesalan gadis itu
yang menekan-nekan layar ponsel. Cukup melihat modelnya saja, sudah bisa
ditebak keluaran tahun berapa. Ketinggalan zaman. Aku yakin, sebab gerutuannya
pasti karena benda itu bergerak lamban. Tidak bisa mengikuti kecepatan deadline
yang diberikan gurunya.
Pandemi ini menjengkelkan. Keadaan membuat
semua orang terpaksa dipandang sama rata. Novi bukan anak keluarga kaya yang
mampu menyeimbangi teman-temannya. Jangankan untuk ponsel baru, makan sehari
tiga kali saja adalah keberuntungan. Aku berlalu pergi dari sana, bertanya
basa-basi hal yang sudah pasti jawabannya tidak akan bisa aku ubah hanya
sia-sia percuma.
***
Kehidupan selalu penuh keajaiban. Sebuah
telepon datang dari temanku lamaku yang kini terpisahkan ratusan kilo meter.
Meksipun N-Virus menghancurkan hampir seluruh lini perekonomian, tetaplah, dia
masih bisa hidup tenang karena tempatnya tinggal cukup terpencil, dan 'langkah'
N-Virus tidak sepanjang itu untuk mengacak-acak kehidupan di sana. Oleh karena
itulah, di sana semuanya baik-baik saja dan tulang punggung masih bekerja
seperti umumnya.
Tujuannya menelepon adalah membicarakan
tawaran pekerjaan sebagai tukang cukur di salon khusus pria yang baru saja buka
di sana. Ketika bertanya alasannya, dia bilang karena dulu aku selalu bekerja
menghabiskan waktu luang di salon milik ayahnya. Dia tahu keahlianku yang
berasal dari hanya memperhatikan, hingga menjadi pekerja tidak resmi di sana.
Walaupun waktu telah mengikis keahlian itu, tapi ilmu itulah tidak akan
benar-benar hilang, pelan akan kembali seiring dengan waktu.
Namun, sekali lagi aku berhadapan dengan
situasi dilema. Ibu tidak setuju. Dia hanya mengatakan satu kalimat,
"N-Virus ini bahaya."
Aku tidak membantah ataupun menyetujui.
Diam-diam di mencari tahu lebih dalam
tentang si Pengacau itu melalui sebuah website terpercaya. Dengan suara lirih,
aku mulai membaca kumpulan aksara berisi penjelasan.
"N-Virus ialah sebuah mikroorganisme
patogen yang merupakan kepanjangan dari Neour Virus. Namanya diambil dari
dampak yang ditimbulkan ketika berhasil masuk pada organisme lain, yang umumnya
manusia dan menjadikan tubuh mereka sebagai "rumah" untuk berkembang
biak dengan mengeluarkan materi genetiknya."
Aku terdiam sejenak dengan dahi berkerut,
berusaha memahami kata-kata ilmiah itu. Jika masih tidak paham, mencoba
menyambungkannya dengan kata sebelumnya. Setelah cukup paham, aku melanjutkan..
"N-Virus menyerang pada sistem koordinasi yang membuat kerusakan pada
saraf. Baik itu pada saraf otonom, motorik ataupun sensorik. Adapun,
gejala-gejala yang muncul tergantung pada imun orang yang terpapar.
"Pada mereka yang terpapar dengan gejala
ringan, ditandai dengan sering mengalami kesemutan, mudah lupa, sulit berpikir
dan umumnya merasa berat untuk menggerakkan tangan atau kaki. Sementara pada
kategori sedang, penyandang seringkali mendadak cadel ketika bicara, kepala
pusing, disertai ketidakmampuan menggerakan satu atau beberapa anggota tubuh
lainnya. Pada beberapa pasien, mereka pun mengalami mati rasa.
"Pada penyandang N-Virus dengan tingkat
berat, selain dari gejala di tadi yang semakin berat ketika imun melemah,
mereka pun bisa mengalami kejang, kelumpuhan di seluruh atau sebagian besar
tubuh, kehilangan ingatannya dan bahkan bisa sampai gagal jantung karena saraf
yang tidak lagi bisa mengatur gerak tidak sadar dengan sempurna.
"Tingkat kesembuhan pada pasien
tergantung pada imunnya sendiri. Akan tetapi, pada penderita dengan gejala
sedang dan berat tidak akan bisa benar-benar kembali seperti semula ketika
sudah sembuh. Virus itu meninggalkan jejak bahkan setelah hancur sekalipun.
Bisa saja, mereka tidak akan bisa kembali bicara, berjalan atau lainnya
meskipun sudah dinyatakan negatif."
Cukup, aku berhenti membaca. Kini, aku
mengerti larangan Ibu. Benakku membayang tentang kepergian nanti. Pandemi hanya
mengurangi sedikit kerumunan orang yang ada
di terminal. Terlepas dari itu, sedikit atau banyaknya orang yang ditemui
tidak menjamin keselamatan dari N-Virus.
Tempat baruku mengais rezeki itu memang
tiidak terlalu terdampak pandemi. Mendapatkan pekerjaan di keadaan seperti ini,
adalah kesempatan besar yang tidak seharusnya disia-siakan. Akan tetapi, semua
ini membuatku ragu. Bagaimana jika aku terpapar?
***
Renungan tanpa perubahan adalah sia-sia.
Nekat adalah jalan terbaik untuk menyeimbangi roda kehidupan yang terus
berputar. Harapan hidup yang lebih baik, membuat pilihanku jatuh untuk merantau
mengalahkan ketakutan yang terus menghantui.
Setelah bersimpuh di sepertiga malam dan meyakinkan Ibu, aku
memilih jalan ini. "Hati-hati di sana, Di. Jaga diri baik-baik."
Pesan singkat darinya sebelum pergi selalu terngiang.
Sebuah keberuntungan menghampiri untuk yang
kedua kali. Perjalananku menuju kota baru berjalan lancar. Hari-hari awal aku
lalui dengan berat, tapi suara
menenangkan Ibu yang terdengar melalui
ponsel Novi, membuatku bisa bertahan.
Waktu berlalu, tapi tidak sedikit pun pun
penyiaran tentang N-Virus berkurang bahkan meski sejengkal. Kasusnya meningkat
pesat setiap hari. Bahkan kini, tempatku tinggal pun mulai resah. Satu persatu
orang mulai terpapar virus yang seolah
tertawa meledek, karena dengan sombong berpikir bahwa dia tidak akan sampai ke
sini.
N-Viirus berhasil memisahkanku dengan pekerjaan
dan keluarga. Namun, sepertinya itu belum cukup. Takdir berkata aku harus
menjadi salah satu bagian dari mereka. Hidup sendirian di ruang isolasi dengan
seluruh rasa sakit yang menjadi temanku.
Ibu dan Novi begitu terluka ketika mengatakan
tentang keadaanku yang sebenarnya. Aku tidak bisa berbohong pada mereka ketika
mempertanyakan cara bicaraku yang cadel. Tentu saja, karena imunku tidak sekuat
itu untuk menahan virus agar tidak menimbulkan gejala dengan tingkat sedang.
Aku diberhentikan sementara dari pekerjaan.
Kembali mengais rezeki di sana atau tidak, tergantung pada efek setelah aku
sembuh. Virus yang bersarang membuatku tidak bisa berjalan, dan hanya bisa
menggerakan satu tangan. Berbicara
kurang jelas yang membuatku merasa lemah. Sementara uang yang sudah
menjadi hakku, akan ditransferkan melalui bank. Pemikiranku tentang simbol
kekuatan berubah, dia adalah Ibu yang pada hari-hari selanjutnya selalu
memberikan semangat untuk sehat dan kuat.
Sekarang, adalah hari kelima berada di sini.
Sejak pagi, aku menghubungi Novi tapi tidak sekali pun terangkat. Mungkin dia
sibuk, pikirku untuk menenangkan diri. Akan tetapi, kegelisahan yang tetap menggelayut
membuatku kini kembali meneleponnya dengan harap-harap cemas.
Perasaanku berubah lega ketika panggilan
terangkat. Aku langsung menodongkan pertanyaan, "Nov, kamu kemana
aja?"
Tidak ada jawaban, tetapi di belakangnya
terdengar keriuhan yang tidak terlalu jelas. Sekali lahi aku memanggilnya, "Novi?"
"Di."
Dari cara
memanggilnya saja, jelas bukan Novi. Was-was, aku segera bertanya, "Siapa
ini?"
"Ini
tetanggamu, Di." Penjelasan singkatnya membuatku ingat pernah mendengar
suara itu.
"Kemana Novi?"
Perasaanku kian gelisah.
"Ada
kecelakaan di pasar karena mobil rem blong."
"Lalu?"
Dahiku mengernyit tidak paham.
"Ibu dan adikmu menjadi korbannya."
"Kemana mereka sekarang?" Aku
bertanya dengan kekhawatiran penuh.
"Mereka ... meninggal, Di."
Seketika dunia terasa runtuh menimpaku yang
tidak berdaya. Dua binar cahaya dalam hidup yang menjadi sumber kekuatan untuk bertahan, telah meredup dan padam untuk
selama-lamanya.
Post a Comment